WISATA ALAM GOA SANGHIANG

 

Bukan batu Kalimaya, bukan pula batu akik yang sedang tren dan digandrungi oleh banyak orang pada saat ini. Namun batu yang ada di desa Cirompang Kecamatan Sobang Kabupaten Lebak  Banten ini berbeda dengan yang lain. Masyarakat Cirompang menyebutnya adalah ” Batu Keupeul”.

Mengapa batu keupeul?

Konon pada zaman dahulu, diperkirakan pada zaman batu,ada seekor binatang yang dinamakan burung garuda paksi(bukan garuda lambang Negara kita). Menurut para kasepuhan di desa ini burung raksasa  tersebut berada di Gunung Bongkok Desa Sindanglaya Kecamatan  Sobang pada saat ini,hewan ini memiliki kebiasaan memakan daging manusia.

Para sesepuh di desa ini merasa tidak aman dan takut anak cucu mereka terancam bahaya.Untuk itu seluruh penduduk desa mengungsi di sebuah gunung yang penuh dengan batu yang sekarang bernama Gunung Rompang.Rupanya keberadaan mereka tercium oleh hewan tersebut,dan sang garuda paksi pun berusaha  terbang ke gunung tempat persembunyian penduduk desa untuk memangsa mereka.

Batu KeupeulUntuk menghalau hewan tersebut mereka menggunakan batu yang berserakan di sekitar gunung tersebut.Mereka terus-menerus melemparkan batu kearah Gunung bongkok sehingga tanpa terasa hampir sebagian besar batu yang ada di Gunung Rompang berpindah tempat.Namun menurut cerita batu yang mereka lemparkan tidak sampai ke gunung Bongkok,tetapi hanya sampai sebuah kali yang sejak saat itu dinamakan Cirahong. Kali tersebut berada di kampung citujah.

Nah,sejak saat itu Gunung tempat persembunyian penduduk dinamakan Gunung Rompang.Dinamakan Gunung Rompang karena Gunung yang semula banyak batunya menjadi Rompang(tumpul),air yang mengalir dari gunung tersebut bernama Cai Rompang,sehingga desa ini dinamakan desa Cirompang karena berada di bawah Gunung Rompang.

Batu Keupeul yang sudah dipindahkan ke rumah adatSedangkan dinamakan Cirahong karena di kali tersebut banyak berserakan batu dengan berbagai ukuran.Dan batu-batu tersebut dinamakan batu keupeul karena bentuk batu tersebut menyerupai kepalan tangan, karena Batu keupeul tersebut memiliki seratan tangan sebanyak lima jari tangan manusia,dan konon itu adalah kepalan tangan para sesepuh sakti yang mengepal batu-batu tersebut untuk dilemparkan kepada burung Garuda Paksi.

Terlepas kepada pembaca mau percaya atau tidak,karena cerita ini  bisa dinamakan sejarah,atau mungkin lebih tepatnya hanya cerita rakyat yang berasal dari mulut ke mulut.Yang jelas akhir-akhir ini cerita tersebut dijadikan sejarah berdirinya desa Cirompang.

Dan bagi pembaca yang ingin lebih mengenal tentang situs batu keupeul tersebut bisa melihat secara jelas di depan rumah adat kasepuhan Cirompang sekaligus bertanya langsung kepada narasumber yang lebih akurat yaitu kasepuhan Cirompang (Olot Amir ).

Penulis : Yayah Cirompang

Video Pengangkatan Batu Keupeul, Desa Cirompang

bagikanShare on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Print this page

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *